Tampilkan postingan dengan label sodok memek. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sodok memek. Tampilkan semua postingan

Nikmatnya Bercumbu sampai keluar sperma di perut mahasiswi

Peristiwa ini terjadi sekitar 2 tahun yang lalu di Amerika. Saya kuliah di universitas yang lumayan terkenal di dunia. Berhubung sekolahnya bagus, maka anak-anak Indonesia yang kuliah di sana rata-rata mahasiswa yang pintar. Cewek yang cantik saja cuma beberapa, itupun sudah ada cowoknya semua. Nah awalnya, ada cewek yang baru datang dari Jakarta bernama Vira (nama samaran). Saya sudah sering mendengar cerita dari teman-teman bahwa Vira ini cantik dan suka berpakaian seksi, apalagi di awal Fall semester itu udara masih panas-panasnya.

Suatu hari di kampus, saya berpapasan dengan teman-teman cewek. Seperti biasa, saya cuma basa-basi saja karena saya memang terkenal cuek di depan cewek-cewek. Setelah basa-basi, saya bilang saya sudah terlambat masuk ke kelas. Ketika balik badan, eh hampir bertabrakan dengan cewek tinggi cantik yang sedang lewat di belakangku. Yang lain langsung tertawa.
"Alahh Ricky pasti deh disengaja supaya kenalan", kata cewek-cewek menggodaku. Ternyata itu yang namanya Vira.
"Alow..., saya Ricky".
"Vira", katanya cuek.

Setelah hari itu saya tidak pernah lagi bertemu dengan Vira. Sampai suatu hari ketika baru keluar dari kelas, saat jalan pulang saya lihat Vira sedang duduk sendirian merokok di luar gedung English. Ah, kesempatan nih pikirku. Langsung saya hampiri dia. Wah gila deh..., pakaiannya membuatku tidak tahan. Baju minim bertali atasnya dan celana pendek berwarna coklat. Ketika saya didepannya, kelihatan payudaranya yang menonjol dengan tali BH hitamnya yang menambah seksi penampilannya. Wah..., begini rupanya cewek-cewek Jakarta jaman sekarang. Setelah basa-basi sedikit, saya ikutan merokok bersama dia dan bercerita tentang diri kita.
Tiba-tiba dia bertanya, "Eh Ric..., loe kalau tidak ada kelas lagi jalan yuk..., Saya asli boring banget nih". Terus setelah bingung mau jalan ke mana, kita memutuskan pergi ke kota H yang jaraknya 2 jam. Katanya dia mau ke mall, pingin shopping.
Hari itu kita jadi akrab sekali sampai sempat bergandengan tangan di mall. Saya tidak tahu kenapa saya yang awalnya nafsu jadi suka benar kepadanya. Anaknya cuek, asik dan lucu lagi. Apalagi dia senang saja jalan denganku yang termasuk anak "bawah" di kotaku. Mobil sudah butut, duit selalu pas-pasan. Wah..., untung deh kayaknya si Vira ini tidak matre.

Setelah sebulan jadi teman dekat, suatu malam pulang dari main billiard dia mengajakku ke tempatnya. Dia tinggal bersama tantenya yang sudah berkeluarga dan punya 2 anak. Waktu itu sekitar jam 2 malam. Jadi Om dan Tantenya sudah pada tidur semua. Dia langsung mengajakku ke dapurnya yang sangat besar.
"Mau beer Ky?", tawar Vira.
"Tidak usahlah Vir..., kalau loe mau ya satu berdua saja", jawabku (saya memang tidak begitu suka yang namanya minuman keras).
Terus waktu Vira datang membawa beernya..., dia langsung jongkok di depanku yang sedang duduk di kursi. Wah..., lagi-lagi dengan salah satu baju sexynya, pemandangan payudaranya persis di depan mataku. Tanpa sadar penisku sudah naik melihat tonjolan payudara yang putih itu. Karena posisiku yang lagi duduk, maka penisku yang sedang tegak menjadi agak nyangkut. Langsung saya membungkuk sedikit supaya tegangnya tidak begitu menyiksa.
"Ky..., loe tuh sudah Saya anggap teman dekat Saya disini. Terus terang..., loe tuh satu-satunya yang cuek saja kalau didepan Saya..., makanya saya suka. Cowok lain kan rata-rata suka genit-genit gitu..., ah males banget deh Saya lihat cowok gituan", kata Vira sambil menatap tajam ke mataku.
"Jadi teman doang nihh?", kataku sambil ketawa kecil.
"Ini baru mau nanya..., loe sama Saya saja mau gak?", kata Vira sambil tersenyum kecil.
"Ah canda loe..., Saya tidak ada modal buat pacaran Vir", saya menanggapinya sambil tersenyum juga.
"Sudah ah..., kalau tidak mau ya sudah", kata Vira dengan pura-pura cemberut.
Tidak tahu ada dorongan dari mana, tiba-tiba jari telunjukku bermain di bahunya. Terus jariku naik menelusuri leher dan telinganya. Saya lihat Vira diam saja menikmati permainan kecilku.
Setelah beberapa saat saya tanya, "Vir..., Saya boleh cium loe tidak?".
"Sekali saja ya Ky...", katanya dengan senyum nakalnya. Saya bungkukkan badan dan langsung saya cium bibirnya dengan lembut. Pertama kita main bibir saja, terus dia yang mulai memainkan lidah. Setelah beberapa saat dia pegang tanganku sambil menuntunnya ke kamarnya.
Dengan was-was saya tanya, "Eh Oom loe tidak bangun sebentar Vir?".
"Makanya jangan ribut!", jawab Vira cuek.

Sampai di kamar, dia duduk duluan di kasurnya yang lumayan besar. Saya jongkok di depannya dan mulai mencium bibirnya lagi. Kali ini tanganku mulai berani memegang payudaranya yang berukuran 34B. Untuk ukuran tubuhnya yang tinggi kurus payudaranya termasuk besar dan pas sekali.
Tiba-tiba Vira mendorongku menghentikan ciuman dan berbisik, "Ky..., ada satu yang perlu loe tau..., Saya belum pernah lho yang aneh-aneh..., Paling jauh cuma ciuman".
Dengan kaget saya langsung bilang, "Ya sudah deh Vir..., tidak usah saja ginian".
Dengan cepet Vira memotong omonganku, "Bukan gitu Ky.., Maksud Saya..., ya pelan-pelan saja, Saya juga tidak mau loe ngira Saya beginian sama semua cowok".
"Saya tidak peduli juga dengan masa lalu loe Vir..., yang penting sekarang Saya senang sama loe..., Kalau loe dulu sering juga gak apa-apa kok..., kan jadi asik loe sudah pengalaman", candaku sambil ketawa kecil takut Oom dan Tantenya terbangun.
"sialan loe!", katanya ikutan ketawa kecil.


Tidak berapa lama, saya maju lagi dan mulai mencium Vira. Setelah beberapa menit saya buka bajunya. Tinggal BH silk yang berwarna biru muda. Tanpa melepas BH-nya, payudaranya saya keluarin dan mulai saya pindah ciumin dan mainin kedua payudaranya. Terus terang, sebelum ini belum pernah saya melihat payudara sebagus ini. Penisku menjadi sangat tegang. Apalagi permainan yang pelan-pelan begini membuat suasana makin erotis dan menahan rasa nafsu yang menggebu-gebu membuatku semakin menikmati permainan ini.
"Vir..., Saya boleh ciumin bawah lu tidak?", tanya saya hati-hati. Vira hanya mengangguk kecil. Kelihatan diwajahnya bahwa dia juga menikmati sekali permainan saya.
"Loe tiduran saja Vir", kata saya sambil berdiri dan membuka baju dan celanaku. Setelah dia telentang saya buka pelan-pelan celananya. Tinggallah celana dalamnya yang juga berwarna biru muda. Saya cium kakinya dari betis naik pelan-pelan ke paha dan berhenti di selangkangannya. Dengan perlahan saya tarik ke bawah celana dalamnya. Ternyata bulu vaginanya tipis dan lurus. Pas sekali nih dalam hati saya. Saya tidak begitu suka vagina yang berbulu lebat. Mulailah saya jilati vaginanya sambil saya masukin lidahku ke dalamnya. Vira diam saja sambil sedikit bergoyang.

Setelah beberapa menit Vira sudah basah dan saya juga sudah tidak tahan dari tadi cuma tegang saja. Saya ciumi pelan pusarnya naik ke payudaranya terus leher dan melumat bibirnya. Sambil berciuman saya mencoba memasukkan penisku ke vaginanya. Pertama sih pelan eh tahunya tidak masuk-masuk. Penisku tidak terlalu besar, tapi lumayan panjang. Saya mencoba lagi menusukkan penisku, eh tetap saja tidak masuk. "Benar juga nih anak masih perawan", dalam hatiku. Sambil menciuminya, saya berbisik, "Saya coba agak keras ya Vir?". Tanpa menunggu jawaban langsung saya coba menerobos lagi dengan lebih keras. Tetap saja tidak bisa.
Akhirnya setelah kira-kira 10 menit tembus juga pertahanan Vira. Pertama dia tampak kesakitan, tapi lama-lama Vira mulai mendesah-deash kecil keenakan. Tangan kananku disuruhnya menutup mulutnya supaya dia tidak mendesah terlalu keras.
Sayang gara-gara sudah ereksi sejak tadi, saya cuma bisa bertahan 10 menit.
"Saya mau keluar nih Vir..." kataku dengan napas yang tidak teratur.
"Di luar Ky!", jawabnya cepat.
Tidak berapa lama saya keluarin sperma saya di perutnya. Saya langsung mengambil tissue dan membersihkan spermaku diperutnya. Vira masih telentang diam di tempat tidur.
"Loe tidak pa-pa Vir?", tanyaku kawatir takut dia menyesal.
"Aduh Ky..., sakit nih kalau saya gerakin", jawabnya dengan muka meringis.
"Pelan-pelan saja Vir", kataku sambil berpakaian lagi.

Cerita dewasa mahasiswa mahasiswi pertama kali ml ngeseks ngentot orgasme

Di hari pertamaku masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi di Semarang, tidak ada yang aku kenal satupun, sehingga aku seperti orang nyasar, bingung celingak-celinguk kesana kemari.
Sewaktu sedang bingung-bingungnya tiba-tiba ada cewek yang menegurku, "Eh, tau kelas MI1-3 nggak?".
Eeiittss..., ternyata aku juga cari kelas itu..., lalu aku jawab, "mm..., saya juga tidak tahu, mendingan cari sama-sama yuk".
"Saya Gita" dia sebut namanya duluan.
"Aku Iwan", aku sebut namaku juga, di situlah aku mulai punya teman bernama Gita. Cewek manis ini mempunyai kulit kuning langsat, nyaris tanpa cacat, tinggi badan kira-kira 166 cm, dengan berat 49 Kg. Tapi yang bikin aku tidak bosan melihatnya adalah dadanya yang menantang, cukup besar untuk ukurannya, tapi tidak terlalu besar sekali. Begitu pula dengan pantatnya, aku paling suka jika dia memakai jeans ketat, dengan kaos oblong warna putih. Kadang jika ia bercanda, ngomongnya nyerempet-nyerempet porno terus, walaupun sekali-sekali saja.

Tiga bulan sudah lamanya aku dekat dengannya, jalan kemanapun selalu bersama, walaupun dia belum resmi jadi pacarku, tetapi aku dan dia selalu berdua kemanapun. Sampai akhirnya aku dan dia pergi jalan-jalan ke daerah Dieng, salah satu daerah dingin di Jawa Tengah, niatnya cuma jalan-jalan saja, tidak menginap. Entah kenapa hari ini dia mengajakku bercanda yang berbau porno terus, dari pagi hingga siang hari.
Sampai akhirnya ia bertanya begini, "Wan, kalau kamu punya istri suka yang buah dadanya besar atau sedeng-sedeng saja?".
Lalu aku jawab "Mm..., yang kayak apa ya?, kayaknya aku suka yang seperti punya kamu itu lho".
"Lho emang kamu pernah liat punyaku?", tanya dia.
Aku bilang "Gimana mau liat, orang kamunya ajah nggak pernah kasih kesempatan..., heheheh".
Dia tanya lagi sambil bercanda, "Kalo aku kasih kesempatan gimana?".
Aku jawab, "Yaa..., nggak aku sia-sia'in".
"Emang berani?", tantang Gita.
"Siapa takut...", jawabku tidak mau kalah.
"Kalo gitu bukti'in!", kata Gita.
"Oke..., kita cari losmen sekarang..., gimana?", tantangku gantian.
"Siapa takut...", jawabnya tidak mau kalah juga.

Jujur saja aku masih berfikir bahwa ini cuma bercanda saja, sampai tiba-tiba di depan sebuah losmen, dia berkata, "Wan, disini ajah..., kayaknya losmennya bagus tuh".
"Deg!!", jantungku terasa berhenti. Dengan ragu-ragu kuarahkan mobilku masuk ke halaman losmen tersebut. Aku masih diam dan setengah tidak percaya.
Terus dia berkata, "Kamu angkat tas-tas kita, aku yang check in..., OK?".
Seperti babu kepada majikannya, aku ikuti kata-katanya dan mengikuti langkahnya masuk ke losmen.

Masuk ke kamar losmen langsung kita tutup dan kunci pintunya, aku masih terdiam terus duduk di atas kasur sampai dia berkata, "OK, sekarang aku kasih kamu kesempatan liat dadaku, tapi jangan macem-macem yaa?".
Tiba-tiba saja Gita menarik kaosnya ke atas, dan langsung melemparkan ke atas tempat tidur. Lalu dia terdiam sambil menatapku yang juga terdiam, walaupun sebenarnya aku sedang terpana. Beberapa saat dia arahkan tangan kanannya ke pundak kirinya, digesernya tali BH-nya jatuh ke lengan. lalu gantian tangan kirinya ke pundak kanan melakukan hal yang sama.

Lalu tangan kanannya diarahkan ke punggung, tetapi tangan kirinya masih memegangi BH bagian depannya. Oh God..., Nafasku terasa berhenti di tenggorokanku..., BH-nya telah terlepas, tetapi masih ditahan bagian depannya oleh tangan kirinya. Gita terus memandangiku. Gita menggigit bibir bagian bawahnya.
Tiba-tiba ia berkata, "Aku nggak akan lepas ini, jika kamu nggak buka pakaianmu semuanya"
Aku ragu-ragu..., tetapi nafasku sudah tidak bisa diatur lagi..., aku buka kaosku..., aku buka jeansku..., lalu aku berhenti, tinggal celana dalam yang aku kenakan..., gantian aku yang menantang, "Aku nggak akan buka ini, jika kamu nggak lepas itu sekarang"
Gita diam sejenak lalu dia turunkan perlahan tangan kirinya dan akhirnya terlihat jelas buah dadanya yang kuning langsat dan benar-benar menantang. Belum sempat aku rampung menikmati pemandangan ini, tiba-tiba ia melompat ke arahku dan mendorongku telentang di kasur, dengan cepat dia mencium bibirku. Aku yang masih kaget akan serangan mendadak ini tidak menyia-nyiakannya, kami saling berciuman, saling melumat bibir, "uugghh..., oohh...", hanya kata itu yang Gita keluarkan.

Tiba-tiba saja di berdiri, dalam 5 detik celana jeansnya sudah terlepas. Kami sama-sama hanya memakai celana dalam saja, saling pandang tetapi itu hanya berlangsung 6 detik, dengan cepat ia menarik celana dalamku kebawah dan melepasnya. Gita tersenyum dan sedikit tertawa, aku tak tahu dia senang melihat punyaku atau menertawai punyaku?
Akupun tidak mau kalah, kutarik perlahan-lahan celana dalamnya sedikit demi sedikit,ternyata Gita sudah tidak sabar lalu dia tarik sendiri celana dalamnya dan melemparnya ke belakang, belum sempat celana dalamnya menyentuh lantai bibirnya sudah melumat bibirku, "oohh...", kami sekarang benar-benar telanjang bulat. Gita mulai mencium leherku tapi itu tidak lama karena aku keburu membalik badanku. Sekarang gantian ia yang telentang di kasur. Pemandangan yang indah sekali tetapi kali ini aku tidak mau lama-lama memandang, langsung aku berada diatasnya, kedua tangannya sudah kupegang dan tahan di samping kiri-kanan kepalanya. Aku ciumi lehernya, bibir, leher lagi. "Hhmmhh..., uugghh..., sstt", cuma itu yang dia katakan.

Ciumanku sudah 'bosan' di leher. Aku mulai turun. Melihat gerakanku itu, tiba-tiba dia mengangkat dadanya. Kesempatan ini tidak kusia-siakan. Aku langsung ciumi buah dadanya sebelah kiri, sedang tangan kananku mengelus-elus buah dadanya yang kanan. Kali ini tangan kirinya sudah memegang kepalaku. "sstt..., hh..., sstt...", mulutnya berdesis seperti ular.
Dia menarik rambutku dan kepalaku dan mengarahkan kepalaku ke buah dadanya sebelah kanan. Dengan sekuat tenaga ia tekan kepalaku ke dadanya. "Gigit..., gigit..., Wan..., sst". Lalu dengan gigiku aku mulai mengigit-gigit sedikit puting susunya, kiri-kanan, kiri-kanan selalu bergantian dan adil. Sementara dari mulut Gita terus keluar kata, "Teruuss..., teruuss..., yang keras..., aahh..., gigit Wan..., gghh..., sstt".
Sementara punyaku sudah tegang keras. Kepalaku mulai turun lagi tetapi tiba-tiba ia berteriak kecil, "Wan..., Iwan..., uugghh..., sekarang ajjaah..., masuk'iin..., nggak usah pake mulut lagi..., masukin sekaraanng..., plizz...".

Aku langsung di dorongnya. Sekarang ganti posisi, aku yang telentang dan Gita berada di atasku. Selangkangannya mencari-cari posisi, walau aku tahu pasti yang dia cari adalah punyaku. Begitu posisinya tepat, Gita mendorongnya dengan kuat. "uugghh...", sedang aku sedikit berteriak, "aahh". Punyaku sudah terbenam di dalam selangkangannya.
Gita terus menggerak-gerakan pinggulnya ke atas, ke bawah, kiri-kanan, naik-turun segala arah gerakan ia lakukan. Matanya terpejam, bibirnya digigit seperti menahan sesuatu, sering dari mulutnya keluar kata-kata, "oohh..., sshhtt..., uugghh..., sshhss..., sshhiitt..., aacchh..., oouuhh...", nafasnya tidak lagi teratur.
Kedua tangannya meremas-remas buah dadanya sendiri, kepalanya sering menengadah ke atas, "uugghh..., oohh..., sshhsstt". Sedangkan aku hanya sanggup meremas sprei di kiri dan kananku dengan kedua tanganku. Gigi atas dan gigi bawahku sudah saling menekan, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutku hanya suara nafasku saja yang terdengar.
Kali ini aku yang mengambil alih "kekuasannya" gantian kudorong tapi dia malah tengkurap, melihat pantatnya yang putih mulus. Aku jadi tambah bernafsu untuk segera memasukkan punyaku ke punyanya.
Aku angkat pinggulnya dan Gitapun mengangkat badannya dengan kedua tangan dan kakinya. Sekarang posisinya seperti mau merangkak. Langsung tanpa tunggu waktu lagi aku mencoba memasukan "adikku" ke lubang vaginanya.
"Mmaasuukkiinn..., ceeppeett...", Gita memohon kepadaku tapi belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya punyaku sudah masuk ke vaginanya. "oohh...", dari mulutku keluar kata tersebut. Dengan semangat aku mulai mendorong ke depan, menarik, mendorong, menarik terus menerus seiring dengan gerakanku. Gerakannyapun berlawanan dengan gerakanku, setiap aku mendorong ke depan ia mendorong pantatnya ke arahku diiringi desahan dan leguhan dari mulutnya. "uugghh..., aahh..., Sshshhss..., oohh..., uugghh...".
Tiba-tiba ia berteriak, "Iwaann..., sshh..., oohh", aku merasakan sesuatu keluar dari dalam lubang kemaluannya tapi, "oohh..., oohh..., aacchh..., Gitt..., aakku...". Akupun merasakan kenikmatan yang tiada bandingannya seiring dengan keluarnya cairan dari dalam punyaku.
"oohh..., uugghh", banyak sekali cairanku keluar.
"Terus Wan..., keluarin semuanya...", pinta Gita.

Tubuhku terasa sudah tidak kuat lagi berdiri. Aku langsung telentang di kasur, sedangkan Gita langsung memelukku dan menaruh kepalanya di dadaku.
"Gita sayang sama Iwan", hanya itu yang keluar dari mulutnya, lalu matanya terpejam sambil terus memelukku.

Cerita nikmat senggama ML dengan pembantu

Pertengahan bulan April yang lalu, kami mendapatkan seorang pembantu baru bernama Titin, seorang gadis Sunda berumur 15 tahun, berwajah bulat dan manis dan sangat kekanak-kanakan, rambut sebahu dan berkulit putih, bertubuh mungil, sangat seksi dengan kedua buah dada yang ranum untuk gadis seusianya. Ia bercerita kalau dia terdampar ke Jakarta karena melarikan diri dari rumahnya di kampung saat hendak dikawinkan oleh orang tuanya dengan seorang lelaki tua yang telah beristeri, sedangkan saat itu ia sudah menjalin hubungan serius dengan pacarnya. Oleh salah satu kenalannya dari kampung, yang empunya yayasan penyalur tenaga kerja ia ditampung sebagai tenaga kerja pembantu.

Dalam minggu pertama kehadirannya di rumah kami, Titin bekerja dengan rajin, tetapi karena umurnya yang masih muda, ia masih sangat bersifat kekanakan dan manja. Titin senang berpakaian baju kaos terusan model daster, sehingga tubuhnya yang mungil dan padat tercetak dengan jelas pada pakaiannya itu. Aku sangat bernafsu sekali melihat Titin dalam keadaan seperti itu, terutama bila ia mencuci pakaian, dan kaos yang dipakainya tersiram air sehingga basah. Penisku langsung menegang dengan keras, ingin rasanya langsung memeluk dan meremas-remas tubuhnya yang bagus itu. Sesekali aku dengan halus berusaha menyenggol pinggulnya atau payudaranya bila berpapasan seakan-akan tidak sengaja, Titin biasanya diam dan senyum-senyum saja. Aku terus berusaha mencari akal untuk bagaimana caranya bisa menikmati dan menggeluti tubuh Titin yang ranum itu. Sampai satu hari, aku menemukan persediaan obat-obatan di lemari dan di situ terdapat sejumlah obat tidur.

Aku melirik ke arah jam dinding, sudah tengah malam. Aku melirik lagi ke arah istriku, yang terbaring dengan nyenyak di sisiku. Ia telah tertidur sekitar setengah jam yang lalu, dan aku memang menunggu saat ini untuk meyakinkan bahwa tidurnya benar-benar nyenyak.

Saat aku telah yakin benar bahwa isteriku telah tidur nyenyak, karena aku tahu persis kalau ia sudah tidur, akan sangat susah sekali untuk membangunkannya, apalagi ditambah minum susu kocok yang dibubuhi obat tidur. Aku cepat-cepat bangun dari tempat tidur dan langsung berjalan ke arah kamar mandi. Aku mengambil sehelai handuk kecil serta membasahinya dengan air hangat serta kemudian keluar dari situ dengan tidak lupa mengambil handuk, tidak lupa sayapun membuka semua pakaianku sehingga aku telanjang bulat.

Aku berjalan langsung ke kamar Titin, tempat di mana ia tidur dan saat ini ia tidur dengan pulas sekali, aku tahu demikian karena iapun meminum segelas susu kocok bercampur obat tidur sebagaimana isteriku. Pelan-pelan aku membuka pintu kamarnya dan setelah mataku terbiasa dengan cahaya kamar Titin, aku dapat melihat badannya yang terbaring di dipan. Titin tidur tanpa mengenakan pakaiannya, mungkin karena kamar yang agak panas, ia hanya mengenakan celana dalamnya saja. Payudaranya yang montok tampak menyembul dengan indahnya, dengan puting yang mencuat kecil kemerah-merahan. Rambutnya tergerai dan dibalik celana dalamnya yang tipis terbayang rambut-rambut vaginanya yang tipis. Aku berdiri memperhatikannya, bibirnya yang manis mengeluarkan napas dalam tidurnya yang nyenyak. Benar-benar gadis 15 tahun yang menggairahkan. Aku menaruh handuk kecil dan handuk besar di kaki tempat tidur, kemudian aku menyentuh pipinya, Titin tidak bereaksi sedikitpun terhadap sentuhan itu, aku mengulum bibirnya serta meremas dengan pelan kedua buah payudaranya bergantian. Ooh, kulitnya halus sekali, sungguh nikmat meremas payudara Titin ini. Aku mengangkat badannya dan mendekatkan kepada pinggiran tempat tidur, sehingga kakinya tergantung pada pinggir tempat tidur tersebut. Celana dalamnya kulepaskan perlahan.

Titin bergerak untuk berbalik, tetapi aku menahannya pada pinggulnya yang bulat. Kemudian aku membuka kedua belah pahanya yang mulus dan mencium vaginanya yang kecil, ooh..., nikmat sekali. Sesekali kusapukan lidahku pada clitorisnya, kemudian clitorisnya kukulum-kulum dengan bibir dan memainkan lidahku untuk menjilat-jilatnya, pinggul Titin bergelinjang dan kakinya secara refleks menjepit kepalaku. Pelan-pelan aku mengangkat kedua belah kakinya sehingga kedua kaki Titin terlipat dan kedua lututnya menempel pada payudaranya yang ranum dan kedua telapaknya bertumpu pada pantatnya yang bulat. Dengan perlahan aku mulai menindih Titin dan menahan agar ia jangan bergerak sehingga posisinya berubah. Penisku yang sudah sangat tegang langsung kuarahkan ke vagina kecilnya yang sudah menanti. Benar-benar gerakan yang susah sekali mengingat Titin tetap tertidur dan tidak memberikan gerakan bantuan kepadaku.

Aku menekan ujung penis yang sudah benar-benar keras ke arah kedua belah bibir vagina Titin dan menggosok-gosokan terus berulang-ulang sehingga cairan mulai membasahi vaginanya. Aku mengisap-isap payudaranya yang ranum dan tetap menggosok-gosokan ujung penisku ke vaginanya untuk mempersiapkan vagina Titin menyambut penisku yang besar ini. Aku menekan penisku pelan-pelan sehingga sepertiga dari penisku mulai amblas ke dalam vagina Titin yang sempit. Aku berhenti sebentar untuk merasakan kehangatan, licinnya cairan dan cengkeraman liang vagina Titin pada penisku nikmat sekali. Aku menekan terus ke dalam liang vaginanya..., aduuh.., hangatnya..., nikmat.

Setelah penisku masuk setengahnya ke dalam vagina Titin, baru kusadari bahwa vagina Titin ini sangat sempit sekali. sungguh ketat otot-otot vaginanya mencengkeram penisku, aku menekan lagi dengan keras sampai penisku terbenam seluruhnya ke dalam liang vagina Titin sambil menahan nikmat yang dihasilkan oleh vaginanya yang mulai berdenyut-denyut meremas penisku. Aku benar-benar tidak dapat menahan kenikmatan yang begitu nikmat akibat denyutan dan remasan vagina Titin ini, aku langsung menarik penisku dengan cepat sehingga tinggal kepala penisku saja di dalam vaginanya kemudian secara cepat dan keras kubenamkan lagi, begitu berulang-ulang secara perlahan-lahan, aku merasakan bahwa otot-otot vagina Titin mengejang dan memberi cengkreaman yang keras kepada penisku yang besar. Setelah beberapa saat aku diam untuk menikmati kenikmatan vagina ini, aku mulai lagi untuk menarik dan menggenjot masuk penisku, kuulangi lagi gerakan ini berulang-ulang, masuk..., keluar..., tarik..., tekan..., tarik..., tekan dalam-dalam. Aku benar-benar bernafsu sekali kepada Titin, apalagi saat aku menekan dan menarik, kedua payudaranya berayun-ayun bagai mengikuti irama gerakanku.

Aku merasa bahwa aku sudah mau sampai puncak orgasme, biarpun aku mau keadaan ini tetap berlangsung terus, tetapi aku harus cepat-cepat mengakhiri ini kalau tidak mau tertangkap basah, biarpun Titin dan isteriku sudah terkena pengaruh obat tidur. Bahaya ketahuan tetaplah bahaya yang besar bagiku.

Akhirnya, aku merangkul badannya yang mungil melewati kedua belah kakinya yang terlipat, aku pertemukan kedua tanganku di belakang punggung Titin dan memeluknya erat sekali ke badanku, kemudian aku memutar pinggulku sambil tetap menekan ke arah vaginanya sehingga aku bisa menanamkan penisku sedalam-dalamnya di liang vagina Titin sampai penisku terasa menyentuh liang peranakannya. Aku benar-benar tidak pernah merasakan hal seperti ini, mungkin hal ini terjadi karena perbedaan ukuran tubuh dan penisku yang besar dibanding tubuh Titin yang begitu mungil. Aku menekan terus, kemudian menarik penisku lagi dan menekan lagi dengan keras dan cepat, sehingga terasa tubuhnya bagaikan orang yang menggigil dan cengkeraman vaginanya terasa semakin memuntir batang penisku, benar-benar nikmat dan nikmat sekali, Tanpa terasa aku menggigit payudaranya yang kanan dengan gigiku. Saat aku menekan batang penisku dalam-dalam ke liang vaginanya, sampailah aku kepuncak kenikmatan bersetubuh, penisku mengeluarkan cairan mani yang menyemprot masuk ke dalam liang vagina Titin dalam-dalam. Aku tetap menekan terus dan tidak melepaskan batang penisku dari dalam vaginanya sampai aku tidak merasakan lagi denyutan-denyutan yang mencengkram. Begitu aku mencabut batang penisku, aku langsung menggosok-gosokan ke bibir vaginanya yang kecil itu sebelum aku mengambil handuk basah untuk mengelapnya.

Aku langsung membersihkan badan Titin dengan handuk lembab untuk menghapus segala tanda-tanda persetubuhan yang terjadi dan memakaikan celana dalamnya lagi serta mengatur tubuhnya dengan rapi di tempat tidur. Tanpa membersihkan diri lagi langsung saja aku menaruh handuk-handuk tersebut ke tempat cucian dan kemudian kembali ke kamarku.

Esok pagi, aku bangun agak terlambat, isteriku sudah pergi ke kantor duluan, saat aku ke belakang menuju kamar mandi, tampak Titin sedang duduk termanggu-manggu melamun di atas sebuah bangku kecil di tempat cucian.
"Ada apa, Tin..., kok pagi-pagi ngelamun siih", sapaku.
"Aakh..., nggak..., anu Pak...", jawabnya.
"Anu..., apanya", kataku lagi.
"Itu..., tadi malem Titin mimpi..., kok..., aneeh bener", jawabnya senyum-senyum.
Waktu melewati Titin, aku menengok ke arah belahan payudaranya yang terlihat dari sela-sela daster kaosnya, tampak sekilas di atas payudaranya yang sebelah kanan bekas gigitan yang memerah..., Waahh.


TAMAT



Cerita panas selingkuh ngesex ml ngentot sama teman kantor

Hari ini, seusai senam jam 08.30 aku harus langsung ke kantor untuk mempersiapkan pertemuan penting nanti siang jam 14.00. Kubelokkan kendaraanku pada toko buku untuk membeli perlengkapan kantor yang kurang, saat aku asyik memilih tiba-tiba pinggangku ada yang mencolek, saat kutoleh dia adalah Vivi teman Diana yang tadi dikenalkan.
"Belanja Apa De..., kog serius banget", Tanyanya dengan senyum manis.
"Ah nggak cuman sedikit untuk kebutuhan kantor aja kok".

Akhirnya aku terlibat percakapan ringan dengan Vivi. Dari pembicaraan itu kuperoleh bahwa Vivi adalah keturunan Cina dengan Jawa sehingga perpaduan wajah itu manis sekali kelihatannya. Matanya sipit tetapi alisnya tebal dan, Aku kembali melirik ke arah dadanya..., alamak besar sekali, kira-kira 36C berbeda jauh dengan Diana sahabatnya. Vivi memakai baju ketat dengan rok mini warna merah darah sehingga sangat kontras sekali dengan kulitnya yang putih mulus. Aku jadi panas dingin melihat gayanya yang centil itu.
"Eh..., De aku ada yang pengin kubicarakan sama kamu tapi jangan sampai tahu Diana ya", pintanya sambil melirikku penuh arti.
"Ngomong apaan sih..., serius banget Vi..., apa perlu", tanyaku penuh selidik.
"Iya perlu sekali..., Tunggu aku sebentar ya..., kamu naik apa", tanyanya lagi.
"Ada kendaraan kog aku", timpalku penasaran.

Akhirnya kuputuskan Vivi ikut aku walaupun mobilnya ada, nanti kalau omong-omongnya sudah selesai Vivi akan kuantar lagi ke tempat ini. Dalam perjalanan aku tidak bisa tenang karena Vivi sambil bicara sesekali merubah posisi duduknya dengan menyilangkan kaki berganti ganti sehingga nampak roknya semakin jauh saja dari lututnya dan Vivi tidak berusaha memperbaikinya. Mataku yang nakal cukup jeli juga menangkap keadaan ini. Vivi hanya tersenyum saat mataku naik kearah dadanya. Kuperhatikan pula kancing dada Vivi terbuka satu sehingga belahan dadanya yang putih sedikit nampak.

"Masalah apa Vi kamu kog serius banget sih", tanyaku lagi.
"Tenang De..., ikuti arahku ya..., santai saja lah..", pintanya.
Sesekali kulirik paha Vivi yang putih itu lagi. Vivi tetap tidak berusaha menutupi. Sesuai petunjuk arah dari Vivi akhirnya aku memasuki rumah besar mirip villa dan diceritakan oleh Vivi bahwa tempat itu biasa dipakai istirahat oleh keluarga besarnya dari luar kota.

"Ok Vi sekarang kita kemana ini dan kamu mau ngomong apaan sih", tanyaku tak sabar, setelah aku masuk ruangan dan Vivi mempersilakan duduk. Vivi duduk depanku dengan santai dan mataku sempat mencuri pandang ke arah selangkanganya, gila nih anak pamer aja ya..., pikriku tak karuan. Selangkangan Vivi nampak jelas dan samar-samar kulihat warna cream menutup pangkal pahanya..., mengkal dan gemol.

"Ok De langsung aja ya..., Kamu pernah merasakan bersama Diana ya", tanyanya. Deg dadaku berguncang mendengar perkataan Vivi yang ceplas ceplos itu.
Aku menagkis dengan menyatakan, "Merasakan apaan sih Vi", tanyaku pura-pura bodoh.
"Alah De jangan mungkir aku diberi tahu lho sama Diana, dia merasa puas sekali dengan punyamu..., Hayoo masih mungkir", desaknya sambil senyum dan mendekatiku manja. Aku nggak bisa bercakap lagi dan kurasakan ada rona merah di wajahku.
"Gila nih Diana nggak tahunya cerita juga sama temannya kalau habis main sama aku" pikirku.
Tak lama kemudian Vivi sudah mendekatiku sambil berbisik "De..., Aku mau juga kamu perlakukan seperti Diana De..., bahkan lebih".
Aku terkejut mendengar pengakuannya dan dengan agresif Vivi memulai mempermainkan kancing kemejaku dan mulutnya menyergapku tanpa ampun. Kurasakan lidahku panas saat bibir kami berpagut erat. Kesempatan ini tak kusia-siakan, tanganku langsung meraba buah dada yang ranum dan tersembul mulai tadi. Vivi terkejut dan menggelinjang tetapi mulutnya terus menghisap mulutku dengan rakus. Vivi orang yang tidak sabar, dengan sigap ditariknya sabuk celanaku dan sreet kudengar suara retsletingku turun.
"Auu...", kudengar pekikan kecil mulut Vivi saat tangannya yang putih menyentuk kepala kemaluanku yang menyembul keluar dari CD-ku. Vivi menoleh ke arahku sambil matanya berbinar dan, "Auhhmm... Kuperhatikan Vivi menunduk dan memasukkan penisku dalam mulutnya, aku hanya bisa mengerang dan melenguh. Semakin keras lenguhanku semakin kuat pula Vivi menghisap dan menyedot batang kemaluanku. Aku tak tinggal diam, aku duduk dan mulai menggerayangi baju Vivi. Kutarik keras baju itu sampai kancingnya terlepas kini Vivi tinggal memakai BH dan Rok saja. Mulut Vivi masih terus mngucek penisku dengan ganas dan Vivi mengangkat rok merahnya CD-nya ditarik ke bawah.

Aku tertegun melihat tingkahnya dengan tergesa memegang ujung penisku dan diarahkan pada lubang vaginanya. "Bless..., sreett..., srreet, perlahan-lahan kurasakan penisku memasuki vagina yang sudak becek dan lembek. Vivi mendesis saat penisku menjarah perlahan lubang vaginanya yang sempit. Sambil mendudukiku dia mulai menggerak-gerakkan pantatnya yang besar. Aku memegang pinggulnya sambil terus ikut berputar. Kuperhatikan payudara Vivi bergoyang naik turun seirama dengan pantat serta vaginanya yang kelihatan penuh saat penisku membungkam vaginanya.

"Azz..., uuhh. Kuperhatikan lenguhnya semakin menjadi. Rambut Vivi terurai tak karuan menutupi sebagian wajahnya yang berkeringat. Aku tak peduli, kutarik nafas panjang untuk menjaga agar spermaku tidak buru-buru keluar, dan..., Tak sampai lima menit kudengar Vivi mengeluh panjang sambil memelukku erat.
"De..., De..., aku nggak kuat De..., ahh..., zztt hh..., Suaranya tak karuan dan kurasakan kukunya menancap erat di dadaku. Kaki Vivi melingkar kuat menandakan dia orgasme yang cukup hebat. Pelukan Vivi tidak lepas sampai akhirnya Vivi mulai melemas dan memandangiku dengan mesra. Aku merasakan penisku masih erat masuk dalam vaginanya. Vivi berdiri sejenak dan mengambil tissue dimeja dan mengelap vaginanya yang basah.

Tanpa menunggu komando lagi Vivi tidur telentang di karpet dan kulihat dengan jelas bulu-bulu vagina Vivi tidak banyak, selangkangannya agak kemerahan dan vaginanya kecil menciut. Payudara Vivi melebar dan ujungnya berwarna coklat kemerahan. Aku semakin tegang melihatnya. Mulutku mulai menjalar mulai leher sampai perutnya. Vivi hanya mengerang dan menggelinjang. Kakinya menyepak dan teriakannya semakin histeris, Aku tak peduli lagi. Saat mulutku akan sampai pada vaginanya Vivi menjambakku dan meminta penisku langsung masuk ke vaginanya.
"De..., aku nggak betah De..., Cepet De...", pintanya.
Wuih, ada juga ya cewek yang nggak sabaran seperti Vivi ini. Tanpa menunggu permintaanya kedua kali aku langsung mengangkat kaki kiri Vivi dan menjauhkan dari kaki kanannya. Kulihat vagina Vivi semakin merekah memerah dan, kepala kemaluanku kutuntun menuju lubang kemaluan Vivi. Aku menggoda dengan menggesek-gesekkan penisku pada ujung lubang vagina Vivi. Kulihat Vivi semakin menjadi-jadi mengerang tak menentu. Diangkatnya pantat Vivi saat penisku menjauh vaginanya dia tidak sabar.

Akhirnya kaki Vivi menggepit pinggangku kuat-kuat agar pantatku maju menuju vaginanya. Aku tak bisa bergerak lagi kutuntun kepala penisku menuju vagina Vivi tetapi hanya menggeleng saja tak muat. Vivi menjerit saat kupaksakan, akhirnya kepala kemaluanku kuusap dengan ludahku biar licin dan, tangaku menyibakkan bibir vagina Vivi agar kemaluanku bisa masuk dengan nikmat,... Sreet,... bles,... perlahan namun pasti kemaluanku dikulum vagina Vivi. Kudengar jeritan kecil saat penisku menghunjam vagina Vivi.
"aauuhh..., zz..., pelan dulu De", pintanya sambil memelukku erat secara perlahan sesenti demi sesenti kudorongkan penisku memasuki gua yang sempit tersebut dan..., Bles..., goyangan terakhir dan cukup kuat berhasil membenamkan seluruh penisku pada vagina Vivi. Vivi terdiam sejenak dan mulai bergoyang dan berputar, penisku seakan dipijit ngilu namun geli. Kaki Vivi kunaikkan kepinggangku, aku merasa kemaluanku telah mentok masuk dalam vaginanya, Vivi semakin histeris menggapai hal itu. Tanganku meremas susunya kuat-kuat Vivi tak peduli, matanya terpejam menikmati goyangan pantatku. Saat penisku masuk keras-keras kulihat vagina Vivi tak sanggup menampung sehingga nampak bibir vagina Vivi ikut masuk kedalam, demikian pula saat keluar kurasakan bagian dalam vagina Vivi ikut mengantar penisku keluar. Goyanganku tambah lama tambah kuat dan Vivi dengan semangat mengimbangi. Sesekali kupegang pinggulnya dan dia kegelian, mata Vivi terpejam dan tangannya meraba-raba seluruh tubuhku. Pantat dan pinggangku jadi sasaran remasan tangan Vivi tapi semuanya itu menambah nikmat suasana.

"Vi..., Aku mau keluar..., Vi..., ahh", Belum sempat aku berkata lagi kurasakan ada cairan hangat menembak vagina Vivi dan Vivi dengan sekuat tenaga membalas dengan semakin banyaknya cairan yang keluar dari vaginanya. Aku menjatuhkan didi di dada Vivi dan Vivi mengimbangi dengan memelukku erat sambil melenguh panjang. Kembali kuku Vivi kurasakan menancap kuat pada punggungku dan kakinya kaku naik melingkar di pinggangku. Lama Vivi memelukku dengan mata terpejam seakan tidak mau kalau kenikmatannya berakhir. Diluar dugaan Vivi terbangun dan duduk di karpet, aku didorongnya hingga tertidur. Dia merabaku perlahan dan memasukkan kejantananku yang mulai mengkerut dalam mulutnya.

"Gila nih anak kagak puas aja rupanya", Kubiarkan Vivi berbuat semaunya dia berusaha membangunkan penisku yang sudah layu sambil mulutnya menyedot dan menjilat tangannya meraba seluruh tubuhku. Dilur dugaan penisku mulai terangsang lagi. Kuraih juga vagina Vivi jadi kami pakai gaya 69. Vivi pintar menghisap dan menjilat hampir seluruh bagian penisku tak luput dari jarahan mulutnya. Aku juga mempermainkan vaginanya yang merah. Saat clitoris Vivi kujilat dia teriak dengan mulut penuh penisku. Kugigit perlahan clitoris Vivi yang lumayan panjang itu dia semakin bernafsu kurasakan cairan hangat banyak keluar dari vagina Vivi, aku kini jadi tidak betah mengalami sedotan dan jilatan panas lidah Vivi. Vivi menarik vaginanya jauh dari mulutku, dia duduk menyedot dan menjilat penisku sambil menghadapku, melirik dan menggoyang mulutnya naik turun.

Kusibakkan rambut Vivi dan kulumat susunya dengan tanganku keras-keras untuk menahan geli saat kemaluanku diisapnya kuat. Aku mengangkat kaki kananku dan kutaruh pada pundak Vivi sehingga Vivi semakin leluasa mengemut dan mengulum seluruh bagian penisku. Tapi sayang mulut Vivi tak sanggup menampung seluruh batang penisku sehingga batang penis yang tidak muat di mulutnya dijilati dari luar secara merata. Mulut Vivi kulihat mengempis saat hisapan kuatnya diarahkan pada kepala penisku. Kepalanya naik turun mengikuti keluar masuknya penisku dari mulutnya dan tangannya juga membantu agar spermaku cepat keluar. Aku hanya bisa memandang serta terpejam memperoleh perlakuan seperti ini. Seakan tak merasa lelah Vivi terus mengelomoh batang penisku dan mempermainkan telor penisku dengan jilatan lidahnya, Aku merinding dan mengerang tapi Vivi tidak mempedulikan, justru eranganku menjadikan dia semakin kesetanan melahap kemaluanku. Kuusap-usap rambutnya dan manariknya, dia tetap bersikap ganas dan agresif. Penisku tambah mengeras dan kurasakan spermaku sudah tak tahan berlama-lama di dalam.
"Vi...,udah Vi..., Lepaskan..., akau mau keluar..., auuhhzz", mendengar teriakanku seperti itu justru sebaliknya Vivi tambah mempererat hisapannya pada penisku dan sambil tangannya naik turun membantu agar spermaku cepat keluar, di luar dugaan..., Creet..., creet..., creet" Saat spermaku keluar mulut Vivi masih terus menghisap kuat kuat. Akhirnya penisku keluar dengan keadaan bersih dari mulut Vivi yang mungil. Vivi tersenyum bahagia melihat aku masih tergolek kelelahan.
"De...", sapanya manja setelah kami semua berpakaian rapi.
"Apa...", jawabku malas-malasan.
"Sebenarnya aku tadi nggak tahu lho kalau kamu udah sama Diana, aku cuman mancing aja kog..., abis kulihat Diana kalau lihat kamu mesra banget De..., Jadi..., kutaksirkan seperti itu"
"Uh dasar..., jadi aku kepancing nih", jawabku sambil menggaruk rambutku yang nggak gatal.
"Terus kenapa..., Nyesel ya", Tanya Vivi.
"Nyesel sih nggak Vi malah pengin terus..., abisan vagina kamu kecil sih", jawabku asal-asalan.

Dan akhirnya aku berangkat ke kantor bersama Vivi untuk mengambil kendaraanya. Vivi semakin erat duduknya dalam mobil. Sebagai ungkapan sayang Vivi dikecupnya batang kemaluanku dengan mesra saat kemaluanku berdiri lagi, dimasukkannya dalam CD-ku dan berkata, "Udahan dulu yang..., nanti kalo ada waktu pasti tak kasih lagi". Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang manja itu. Sampai dikantor aku kesiangan dan dimarahi oleh direktur, tapi nggak apa-apa yang penting sudah tahu rasanya Vivi.